Tampilkan postingan dengan label metode pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

HUBUNGAN MEDIA, KOMUNIKASI, DAN PENDIDIKAN



MEDIA, KOMUNIKASI, DAN PENDIDIKAN

Media komunikasi adalah suatu media atau alat bantu yang digunakan oleh suatu organisasi guna tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja dengan hasil yang maksimal. Sedangkan media pendidikan adalah alat, metode, dan tehnik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Hamalik. 1982).
Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi, seorang pengajar dapat mengatasi sikap pasif pembelajar. Fungsi media pendidikan diantaranya adalah :
1.            Menimbulkan kegairahan belajar bagi pembelajar
2.     Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara pembelajar dengan lingkungan kenyataan
3.    Memungkinkan pembelajar dapat belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya
Peran komunikasi dalam proses belajar mengajar adalah agar siswa dapat mengerti dan memahami materi pembelajaran serta dapat menimbulkan umpan balik yang positif  sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik.
Komunikasi yang tidak efektif merupakan salah satu penyebab terhambatnya proses belajar mengajar. Hal ini dikarenakan lemahnya sistem komunikasi antara pendidik dan peserta didik sehingga tidak tercapainya interaksi belajar mengajar yang efektif. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini. Untuk itulah guru perlu mengembangkan pola komunikasi yang efektif dalam proses belajar mengajar.

Selasa, 21 Februari 2017

TUGAS DAN PERANAN GURU DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR


TUGAS DAN PERANAN GURU DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR

Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam IBM. Guru sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu guru harus benar-benar memahami tugas dan perannya. Tidak sekedar memahami, guru harus mampu mengaplikasikan tugas dan perannya secara optimal dalam pembelajaran..Berikut ini akan dibahas secara ringkas hal tersebut.
       A. Tugas Guru dalam IBM
Secara garis besar tugas guru terpilah menjadi tiga, yaitu tugas instruksional, tugas edukasional, dan tugas manajerial. Ketiga tugas tersebut saling terkait. Guru harus mampu memainkan peran secara proporsional ketiga tugas tersebut dalam kegiatan pembelajaran.
Tugas intruksional adalah tugas guru untuk menyampaikan bahan pelajaran sesuai dengan bidangnnya. Tugas ini bertujuan untuk meningkatkan atau mengembangkan sisi intelektual anak. Guru dituntut harus menguasai materi pelajaran yang disampaikan kepada anak didik. Hal-hal yang terkait dengan tugas tersebut adalah guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang hangat dan fleksibel, guru harus mampu mendistribusikan tanggung jawab kepada anak, guru harus mampu memiliah-milah permasalahan di kelas, dan guru harus mampu membangun semangat persatuan dan kesatuan dalam kelas.
    Tugas edukasional adalah tugas guru untuk mengembangkan dan meningkatkan sikap mental atau kepribadian anak. Tujuan dari tugas ini adalah untuk meningkatkan sisi afektif. Hal-hal yang terkait dengan tugas ini adalah guru harus mengembangkan siswa memiliki tugas sebagai makhluk individual, sosial, dan agama. Tugas ini dikenal dengan tugas mendidik.
     Tugas manajerial adalah tugas yang dilakukan oleh guru untuk mendayagunakan seluruh komponen yang ada di dalam kelas terutama proses belajar siswa. Untuk melaksanakan tugas terasebut, guru harus menguasai prinsip-prinsip pengelolaan kelas. Adapun prinsip pengelolaan kelas antara lain keantusiasan atau kehangatan, tantangan, keluesan, kevariasian, kedisiplinan, dan kepositifan.
 
       B.   Peranan Guru
Untuk merealisasikan tugas-tugas yang telah diuraikan di atas, guru mempunyai banyak peran dalam interaksi belajar- mengajar. Peranagan guru dapat diuraikan seperti di bawah ini
1.   Guru sebagai sumber belajar
      Guru sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Guru dapat dinilai baik atau buruk dapat dilihat dari penguasaan materi pelajaran. Sebagai sumber belajar sebaiknya guru memiliki bahan referensi yang baik dan banyak, mampu menunjukkan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa, dan mampu melakukan poemetaan materi pelajaran.
2.    Guru sebagai fasilitator.
        Guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. “Apa yang harus dilakukan siswa agar mudah mempelajari bahan pelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara optimal?” Hal-hal yang harus dipahami guru sebagai fasilitator antara lain :
a. memahami berbagai jenis media dan fungsinya,
b. mempunyai keterampilan merancang media,
c. mampu mengorganisasi jenis media dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar, dan
d. mempunyai kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa.
3.   Guru sebagai pengelola.
       Guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman. Prinsip belajar yang harus diperhatikan guru antara lain:
 -    semua yang dipelajari siswa, siswa harus mempelajarinya sendiri.
 -    siswa belajar mempunyai kecepatan masing-masing,
 -    siswa akan lebih banyak belajar jika setiap melaksanakan tahapan kegiatan diberi reinforcement atau penguatan, dan
        -  jika siswa diberi tanggung jawab, ia akan lebih termotivasi untuk belajar.
Dalam melaksanakan pengelolaan pembelajaran, ada dua macam kegiatan, yaitu menelola sumber belajar dan melaksanakan perannya sebagai sumber belajar. Sebagai pengelola, guru mempunyai empat fungsi, yaitu :
a. merencanakan tujuan belajar,
b.mengorganisasi berbagai sumber belajar,
c. memimpin (memotivasi dan mnstimulasi siswa), dan
d. mengawasi segala hal dalam rangka pencapaian tujuan. 
4.    Guru sebagai demonstrator       
     Guru mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang ditunjukkan. 
Ada dua konteks guru sebagai demonstrator, yaitu:
 -  guru harus menunjukkan sikap-sikap terpuji, 
       -   guru harus menunjukkan cara agar setiap materi pelajaran dapat lebih dipahami oleh siswa.
5.    Guru sebagai pembimbing.
        Siswa adalah individu yang unik. Setiap individu memunyai perbedaan. Peran guru adalah menjaga, mengarahkan, dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya. Maka dari itu seorang guru harus memahami anak didik yang sedang dibimbing dan terampil merencanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi.
6.    guru sebagai motivator
       Guru harus menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar. Cara memotivasi anak adalah:
a.    memperjelas tujuan yang akan dicapai,
b.    membangkitkan minat siswa terhadap materi,
c.    menciptakan Susana yang menyenangkan,
d.    memberi pujian yang wajar setiap keberhasilan,
e.    memberi penilaian,
f.     memberi komentar terhadap hasil kerja siswa,
g.    menciptakan persaingan dan kerja sama.
7.   Guru sebagai evaluator
       Guru berperan untuk mengumpulkan informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Ada dua fungsi dalam perannya sebagai evaluator, yaitu:
 -  menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, dan
-  menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan yang telah diprogramkan.

Sumber:
Artikel yang sangat bermanfaat ini dikutip dari tulisan Mr. Muhammad Subhan, S.Pd., M.Pd. pada blog beliau..


Selasa, 24 Mei 2016

METODE PEMBELAJARAN TIME TOKEN


METODE PEMBELAJARAN TIME TOKEN
Secara etimologi (maklum gaes, ane selalu kembali ke basic kebahasaan dulu), Time Token  berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu time yang artinya waktu dan token yang artinya berbicara. Jadi  secara bahasa time token dapat diartikan sebagai waktu untuk berbicara. Ada juga yang mengatakan metode pembelajaran ini namanya Time Token Arends Methods atau metode Time Token Arends, Arends merupakan tokoh yang memperkenalkan metode ini.
Sering ditemukan pada suatu kelas, ada siswa yang hanya diam atau juga ada yang sangat aktif. Dua hal berbeda ini selalu ada pada setiap kelas, baik itu tingkat SD (Elementary School), SMP (Junior High School), SMA (Senior High School), bahkan sampai pada tingkat Universitas (University level). Dalam hal ini, pengajar harus jeli menerapkan metode pembelajaran yang tepat untuk membuat peserta didiknya aktif. Nahh disini lah metode ini bisa dipakai, yuukk kita bahas lebih jauh metode ini.
Metode pembelajaran ini dikatakan sebagai suatu solusi untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi sehingga siswa tidak diam atau mendominasi pembicaraan. Metode pembelajaran ini bertujuan agar masing-masing anggota kelompok diskusi mendapatkan kesempatan untuk memberikan konstribusi dalam menyampaikan pendapat mereka dan mendengarkan pandangan serta pemikiran anggota lain. Struktur pengajaran pada metode ini juga sangat cocok digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial.
Pemilihan materi yang sesuai untuk model pembelajaran time token adalah materi yang lebih menekankan pada penyampaian pendapat siswa. Hal ini dikarenakan model pembelajaran ini lebih menekankan pada keaktifan siswa dalam mengutarakan pendapatnya mengenai suatu masalah yang muncul.
Langkah-langkah pembelajaran time token :
1.
Guru menjelaskan tentang kompetensi yang ingin dicapai
2.
Guru memberikan gambaran tentang materi yang akan dipelajari
3.
Guru membagi siswa atau peserta didiknya ke dalam beberapa kelompok dan menginstruksikannya untuk saling berbagi pengetahuan.
4.
Guru membagi kupon kepada setiap siswa, waktu berbicara masing-masing siswa pemegang kupon ditentukan oleh guru, bisa 30 detik ataupun 1 menit. Pemberian waktu ini didasarkan pada alokasi waktu dan jumlah siswa.
5.
Siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Ini dilakukan sampai semua siswa berbicara.
6.
Penilaian dilakukan oleh guru berdasarkan pada waktu (time) yang digunakan siswa.

Catatan :
Yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam menggunakan metode ini adalah alokasi waktu dan jumlah siswa dalam kelas tersebut. Juga tentang materi yang cocok ketika menerapkan metode ini, cari materi yang dapat menimbulkan banyak argumentasi.
Semoga bermanfaat..!!  

Senin, 23 Mei 2016

MOTIVASI INTRINSIK DAN EKSTRINSIK



MOTIVASI INTRINSIK DAN EKSTRINSIK

Motivasi Intrinsik
Motivasi Intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu diransang dari luar, karena dalam diri setiap individu suadah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak perlu ada yang menyuruh atau mendorongnya, karena ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan untuk menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan, ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah dengan belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol atau seremonial.

Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan  berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar karena tahu besok paginya akan ada ujian dengan harapan akan mendapat nilai yang baik, sehingga ia akan dipuji oleh pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung berhubungan dengan esensi apa yang dilakukannya itu.  Oleh karena itu motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar di mulai dan di teruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak  berkaitan dengan aktifitas belajar.

Source :
Sardiman, A.M. (2001). Interkasi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Cet. IX, Jakarta: Raja grafindo Persada

EMPAT JENIS PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter dalam satuan pendidikan meliputi pembelajaran di kelas, kegiatan sehari-hari di sekolah (kultur sekolah), dan kegiatan...