Tampilkan postingan dengan label informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label informasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

PROBLEMATIKA SOSIALISASI ANAK DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN



Keluarga Dan Hubungannya dengan Sosialisasi pada Anak

Menurut Megawangi (1999) ada tiga elemen struktur internal keluarga, yang salah satunya mengacu pada fungsi sosial. Dalam hal ini, digambarkan oleh peran dari masing-masing individu atau kelompok berdasar status sosial dalam suatu sistem sosial (misal anak, ayah dan ibu). Artinya, setiap status sosial tertentu harapannya dalam interaksi dengan individu/kelompok akan ada fungsi dan peran, yang didasarkan bukan pada ciri pribadi individu melainkan karena status sosial yang dipegangnya. Semisal saja, anak mempunyai kewajiban untuk menghormati dan patuh pada orangtua dan sebaliknya orangtua berkewajiban juga memberikan cinta, perhatian dan kasih sayang pada anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang ditulis Parson & Bales (1955) dalam Megawangi (1999), bahwa orangtua mempunyai dua peran, yaitu
1) Instrumental, yang dilakukan oleh bapak/suami dan
2) Peran emosional/ekspresif, yang biasanya disandang oleh seorang ibu/istri.
Kedua peran tersebut dijalankan oleh keluarga yang juga merupakan intsitusi dasar (fundamental unit of society) dalam rangka membentuk individu bertanggung jawab, mandiri, kreatif dan hormat melalui proses sosialisasi terus menerus kepada anak-anaknya.
Sedang bila dilihat menurut fungsinya, keluarga salah satunya berperan dalam melaksanakan proses sosialisasi. Zanden (1986) menyatakan bahwa fungsi keluarga adalah sebagai wahana terjadinya sosialisasi antara individu dengan warga yang lebih besar.Sama halnya dengan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI no.21 tahun 1994 tentang penyelenggaraan pembangunan keluarga sejahtera, salah satu fungsi dari delapan yang ada adalah sosialisasi dan pendidikan, yaitu fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya dimasa yang akan datang.
Sosialisasi merupakan suatu proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain karena adanya interaksi. Untuk perkembangan sosial anak akan sangat dipengaruhi siapa agen sosialnya. agen sosial yang terpenting adalah orang-orang yang saling berhubungan dan dapat mempengaruhi bagaimana orang tersebut berperilaku, temasuk di sini adalah orangtua, saudara kandung (sibling) atau kelompok bermain (peer); selain itu nenek/kakek, paman/bibi dan orang dewasa lain dalam masyarakat sebagai jaringan hubungan yang lebih luas. Setiap agen sosial tersebut akan menentukan perbedaan dalam proses sosialisasi anak. Oleh karena itulah untuk menghasilkan individu-individu yang berkualitas baik, keluarga amat berperan dalam mensosialisasi nilai-nilai kebaikan dan norma yang berlaku atau yang diharapkan masyarakat kepada anak mereka yang dimulai dari masalah-masalah kecil yang terjadi dalam keluarga sesuai dengan tahap perkembangan usia anak tentunya. Praktek pengasuhan merupakan masa penting dalam membentuk individu matang dan dewasa, yang didalamnya telah mencakup proses sosialisasi.
Cara yang dapat dilakukan keluarga dalam proses sosialisasi adalah sebagai berikut: Pertama, pengkondisian/pelaziman. Karena kita tahu dan tidak dapat disangkal lagi bahwa anak ialah manusia yang pasif sepenuhnya dalam sosialisasi, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan sebagian besar sikap dan tingkah lakunya dilakukan sebenarnya melalui proses ini, yang diciptakan oleh orangtua atau anggota keluarga lain yang telah dewasa dengan pemberian mekanisme hukuman atau imbalan; semisal, makan, minum, mandi, berpakaian, buang air besar/kecil (toilet training) bahkan bertutur kata sekalipun. Dengan diberikannya mekanisme tersebut anak akan mempertahankan tingkah laku tertentu bila apa yang dilakukan/diperbuat (baik) dapat imbalan. Sebaliknya anak akan menghindari tingkah laku tertentu bila ternyata apa yang diperbuat (buruk) akan mendapat hukuman.
Kedua, pemodelan (pengimitasian dan pengindentifikasian). Cara imitasi biasanya berlangsung dalam waktu singkat untuk sekedar meniru aspek luar dari tokoh/model yang diidealkannya. Sebaliknya, jika anak menginginkan dirinya sama (identik) dengan tokoh idolanya maka peniruan akan terjadi lebih mendalam karena tidak hanya peniruan tingkah laku tapi juga totalitas dari tokoh atau model tersebut (identifikasi) sehingga di sini orangtua (keluarga) perlu memberi contoh perilaku yang baik bagi anaknya.
Dan ketiga, internalisasi yaitu cara yang mempersyaratkan anak (dengan sukarela) untuk menyadari bahwa sesuatu hal, seperti norma, nilai dan tingkah laku memiliki makna tertentu yang berharga bagi dirinya atau bagi masyarakat kelak untuk dijadikan panutan, pedoman atau tindakan yang lama kelamaan hal tersebut akan menjadi bagian dari kepribadiannya, semisal anak dicontohkan dengan perbuatan-perbuatn yang dilarang agama atau yang tidak diharapkan masyarakat pada umumnya.
Anak sebagai bagian anggota keluarga dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak akan terlepas dari lingkungan dimana dia dirawat/diasuh atau awal diperolehnya pengalaman belajar bagi seorang anak. Dalam keluargalah kali pertama anak berinteraksi terutama dengan ibunya setelah anak dilahirkan dan melalui kegiatan menyusui. Hubungan ini akan berkembang sesuai tahapan usia anak. Dari sinilah anak akan dan selalu berusaha untuk menyesuaikan diri melalui pengalaman belajar agar diterima di lingkungan sosial dan menjadi pribadi yang dapat bermasyarakat; dengan syarat punya kesempatan untuk berhubungan dengan orang lain (sosialisasi), mampu berkomunikasi dan berbicara yang dapat diterima (dimengerti) orang lain dan memiliki motivasi belajar yang menyenangkan. Untuk hal ini diperlukan suatu dukungan orang lain, karena pengalaman sosial dini kali pertama diperoleh di dalam rumah maka keluargalah yang paling tepat menentukan terjadinya proses sosialisasi pada anak.
Karena keluarga berfungsi untuk menjaga dan menumbuh-kembangkan anggotanya, maka diperlukan orangtua yang bijaksana, sebab sikap orangtua akan mempengaruhi cara mereka memperlakukan anak dan mempengaruhi perilaku anak. Pada dasarnya hubungannya orangtua-anak tergantung pada sikap orangtua, dimana hal ini juga diperoleh melalui pengalaman belajar sebelumnya dari orangtua mereka.

Kesibukan Orangtua
Sesibuk apapun orang tua perlu memiliki waktu untuk memperhatikan anak-anaknya. Jangan sampai hanya bersemangat ketika ingin mendapatkan anak tetapi tidak bersemangat dalam memperhatikan anak-anaknya.
Jika kedua orang tua bekerja semua, orang tua dapat menggunakan waktu bersama-sama anak, misalnya: pada sore hari atau malam hari setelah kedua orang tua pulang dari bekerja. Orang tua yang bijaksana tentu bisa mengatur waktu untuk urusan pekerjaan dan urusan rumah tangganya.
Setelah pulang kerumah orang tua jangan memikirkan pekerjaannya yang ada dikantor secara terus menerus, namun harus lebih memfokuskan perhatiannya terhadap sesuatu yang ada dirumah, khususnya memperhatikan anak-anaknya. Tentu bukan hanya sekedar bertemu dengan anak, namun kualitas pertemuan dengan anak itu yang jauh lebih penting.
Setiap anak-anak memiliki kebutuhan yang harus diperhatikan oleh orang tua, kebutuhan tersebut dapat diberikan oleh orang tua baik ketika berada di tempat pekerjaan maupun setelah berada dirumah.

Kamis, 02 Juni 2016

CLASSICAL CONDITIONING DAN OPERANT CONDITIONING



 Classical Conditioning dan Operant Conditioning pada Teori Behavioristik

Classical Conditioning (pengkondisian klasik) di kemukakan oleh seorang psikolog Rusia bernama Ivan Pavlov. Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam hal ini stimuli netral diasosiasian dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama. Tedapat dua tipe stimuli dan dua tipe respon, yaitu: unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned response (CR). Classical conditioning merupakan kemampuan merespon stimulus baru berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara berulang – ulang. Dalam classical conditioning terdapat prinsip continguity yang sangat berperan penting yang berbunyi, “kapanpun terdapat dua alat indra terjadi secara bersama-sama dan berulang kali, maka keduanya saling berkaitan. akhirnya bila hanya satu dari stimulus terjadi, maka yang lainnya ikut merespon sebagai perwujudannya terjadilah suatu jawaban yang otomatis. Misalnya ketika mata kita terkena debu atau kotoran lainnya yang berasal sari udara, secara refleks kita akan langsung menutup mata. Contoh lainnya ketika tangan kita terkena api atau dekat dengan api, secara serentak pasti tangan kita akan langsung menghindar dari api tersebut.
Prinsip Classical conditioning tidak begitu saja dapat digunakan, melainkan terdapat beberapa petunjuk untuk menggunakannya. Pertama, mengkaitkan kejadian yang positif dan menyenangkan dalam tugas belajar. Misalnya agar proses pembelajaran dalam kelas tidak membosankan, sesekali seorang guru mengadakan sejenis permainan kelompok untuk merileksasikan sejenak pikiran siswa. Dengan permainan ini proses belajar akan lebih menyenangkan dan tentunya siswa akan lebih semangat untuk belajar.
Kedua, memberikan bantuan kepada siswa secara sukarela kepada siswa untuk menghadapi situasi yang penuh kecemasan. Misalnya seorang anak yang pemalu, diberi tanggung jawab untuk memimpin berdoa di depan kelas. Selain memimpin doa, berikan kesempatan kepadanya untuk kegiatan yang sama di depan kelas. Hal itu bisa membantu anak tersebut untuk melatih mentalnya agar menjadi lebih baik dan percaya diri.
Ketiga, membantu siswa mengenal perbedaan dan kesamaan antara situasi yang dapat mereka diskriminasikan dan simpulkan secara tepat. Misalnya seorang guru memberi pengarahan kepada siswa kalau diberi sesuatu barang dari orang yang belum dikenal seharusnya tidak mau menerimanya. Karena kemungkinan orang tersebut dapat berbuat yang tidak baik kepada kita.
Operant Conditioning (pengkondisian operant) adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. percobaan yang dilakukan oleh Skinner, dilakukan pada seekor tikus yang di masukkan dalam boxs, yang disebut skinner's box.
Pada awalnya penelitian mengenai operant conditioning dilakukan oleh E.I. Thorndike. Namun penelitian yang dilakukan oleh Skinner lebih sederhana dan lebih dapat diterima secara luas.
Maksud dari pengkondisian ini yaitu proses pembeljaran dimana seseorang secara sadar terlibat dan aktif bertindak pada lingkungannya dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Operant conditing adalah belajar dalam hal perilaku otomatis diperkuat atau diperlemah oleh konsekuensi atau tujuan (Santrock and Yussen, 1992).
Prinsip Classical conditioning tidak begitu saja dapat digunakan, melainkan terdapat beberapa petunjuk untuk menggunakannya. Pertama, mengkaitkan kejadian yang positif dan menyenangkan dalam tugas belajar. Misalnya agar proses pembelajaran dalam kelas tidak membosankan, sesekali seorang guru mengadakan sejenis permainan kelompok untuk merileksasikan sejenak pikiran siswa. Dengan permainan ini proses belajar akan lebih menyenangkan dan tentunya siswa akan lebih semangat untuk belajar.
Kedua, memberikan bantuan kepada siswa secara sukarela kepada siswa untuk menghadapi situasi yang penuh kecemasan. Misalnya seorang anak yang pemalu, diberi tanggung jawab untuk memimpin berdoa di depan kelas. Selain memimpin doa, berikan kesempatan kepadanya untuk kegiatan yang sama di depan kelas. Hal itu bisa membantu anak tersebut untuk melatih mentalnya agar menjadi lebih baik dan percaya diri.
Ketiga, membantu siswa mengenal perbedaan dan kesamaan antara situasi yang dapat mereka diskriminasikan dan simpulkan secara tepat. Misalnya seorang guru memberi pengarahan kepada siswa kalau diberi sesuatu barang dari orang yang belum dikenal seharusnya tidak mau menerimanya. Karena kemungkinan orang tersebut dapat berbuat yang tidak baik kepada kita.
Pada dasarnya pengukuhan itu komplek. Secara sederhana pengukuhan dibedakan menjadi pengukuhan positif yang sifatnya ditambahkan atau diperoleh dan pengukuhan negatif yang sifatnya dikurangi, ditolak atau dijauhi. Anatar kedua pengukuhan ini sulit dipahami karena keduanya melibatkan stimulus yang berlawanan dan tidak menyenangkan. Perlu kita cermati bahwa pengukuhan negatif juga dapat meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku, sementara itu hukuman menurunkan kemungkinan munculnya respon.
Terdapat beberapa susunan yang dapat meningkatkan efektivitas pengukuhan.
A.             Yang pertama yaitu interval waktu. Belajar lebih efektif dalam operant conditioning karena interval stimulus dan responnya sangat singkat (perilaku otomatis), dibandingkan classical conditioning (perlu proses yang tidak dapat secara otomatis).
B.             Yang kedua yaitu pembentukan. Dengan pembentukan diharapkan dapat mengembangkan perilaku individu yang dikehendaki. Misalnya terdapat aturan bahwa anak yang baru pertama masuk sekolah diharapkan cepat mengambil tempat duduk dan duduk dengan tenang.
C.              Yang ketiga yaitu penjadwalan pengukuhan. Penjadwalan pengukuhan menentukan kejadian suatu respon yang akan dikukuhkan. Penjadwalan sepenuhnya berdasarkan interval waktu dan frekuensi perilaku secara spesifik. Yang keempat yaitu pengukuhan primer dan sekunder. Pengukuhan primer menggunakan pengukuhan dalam memuaskan diri sendiri tanpa melalui belajar dari lingkungan, sdangkan pengukuhan sekunder mendapatkan nilai positif melalui pengalaman yang dapat dipelajari (bersifat kondisional).
Prinsip ketiga dalam teori behavioral yaitu Pembentukan Kebiasaan. Presentasi dalam pembentukan kebiasaan terjadi berulang-ulang. Misalnya kebiasaan seorang bayi yang ingin minum susu. Si bayi akan memasukkan tangan ke mulutnya dan akan berhenti ketika bayi tersebut telah mendapatkan ASI dari ibunya.
Prinsip yang terakhir atau yang keempat dalam teori behaviorial yaitu Peniruan (Imitation). Imitasi atau peniruan terjadi ketika anak – anak belajar perilaku baru dengan melihat orang lain bertindak. Dalam beberapa hal imitasi membutuhkan waktu yang lebih sedikit daripada operant conditioning. Selain itu pada operant conditioning hanya memberikan pembelajaran yang terbatas dan mengabaikan situasi penting terutama pada pengaruh social terhadap belajar.

Rabu, 01 Juni 2016

BELAJAR DASAR-DASAR BAHASA SPANYOL



 BAHASA SPANYOL
Akhir-akhir ini, ane mencoba belajar Bahasa Spanyol walaupun secara autodidak hanya belajar dari buku, artikel-artikel, juga pronouncing’nya belajar sama mas Youtube.. hehe sulit sich sebenarnya tapi setidaknya taulah sedikit-sedikit tentang bahasa tersebut.. sedikit kita bahas tentang ntuh bahasa, yang ane kutip dari blog Nuse School..
Bahasa Spanyol merupakan bahasa ke-4 yang paling banyak digunakan di dunia, dan termasuk dalam rumpun bahasa Iberia-Roman. Bahasa Spanyol jika dilihat beberapa kata mirip dengan bahasa Italia, Bahasa Perancis, dan Bahasa Portugis, karena mereka termasuk dalam satu rumpun yaitu rumpun bahasa Italik. Sedangkan bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan bahasa Belanda termasuk dalam satu rumpun bahasa yaitu Jermanik. Lalu bagaimana dengan jumlah alphabet dalam bahasa Spanyol ?
Sebelum belajar bahasa Spanyol lebih jauh, kita harus tahu dulu gaes alfabet Spanyol serta cara membacanya. Kalau dipikir-pikir cara pengucapannya tidak banyak jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia jadi baru baca beberapa kali pasti sudah bisa.Yuks, kita mulai!

A   :  a  
K   :  ka    
T   :  te    
B   :  be     
L   :  ele    
U   :  u  
C   :  ce    
LL   :  elle    
V   :  uve    
CH   :  che    
M   :  eme    
W   :  uve doble    
D   :  de    
N   :  ene     
X   :  equis    
E   :  e    
Ñ   :  eñe    
Y   :  i griega    
F   :  efe    
O  :  o    
Z   :  zeta
G   :  ge 
P   :  pe  

H   :  hache    
Q   :  cu    

I   :  i 
R   :  erre

J   :  jota    
S   :  ese   


Petunjuk pengucapan :
Konsonan :
c, terletak di depan i dan e dilafalkan th (thin) : centro (thentro), di depan a, o dan u dilafalkan k : como (komo)
ch, dilafalkan c : chocolate (coklat)
g, di depan i dan e dilafalkan h : gira (hira), gente (hente), di depan ui, ue, a, o dan u dilafalkan g : guia (giya), hamburguesa (hamburgesa), gata (gata), gusto (gusto)
h, tidak dilafalkan : hombre (ombre)
j, dilafalkan h : juan (huan), junio (hunio)
ll, dilafalkan y : pollo (poyo), caballero (kabayero)
ñ, dilafalkan ny: mañana (manyana)
q, di depan ui dan ue dilafalkan ki dan ke : aqui (aki)
r, terletak di awal kata, dilafalkan dengan jelas : rato; di tengah kata dilafalkan lembut (seperti melafalkan r dalam bahasa Inggris) : pero
rr, dilafalkan dengan jelas meskipun terletak di tengah kata : perro
z, terletak di depan a, o, atau u dilafalkan th (thin) : zumo (thumo)

Vokal :
i     seperti dalam kata mesin     : tienda 
e    seperti dalam kata pesta     : cerca
a    seperti dalam kata apa        : cara
o    seperti dalam kata pohon    : otoño
u    seperti dalam kata putus     : cuchara
Walaupun ada yang mirip tetap saja ada yang beda dengan pelafalan bahasa Indonesia. Jika dibandingkan dengan bahasa Perancis, pelafalan bahasa Spanyol tergolong jelas dan lebih tegas. Kadang saat mengucapkan “todo directo” (jalan lurus ke depan) pengucapan “r” nya sangat tegas “RRrrrrr” seperti itu. Sangat menarik ya? Lalu, setelah sekilas mengetahui pelafalan bahasa Spanyol, ada baiknya kita belajar beberapa ekspresi dasarnya.

Ekspresi
Pengucapan
Arti
buenos días
Buenos dias
Selamat pagi
buenas noches
Buenas noces
Selamat sore
¡Hola
Ola
Halo
¿cómo está?
Komo esta
Apa Kabar?
Estoy bien
Estoi bien(g)
Saya baik-baik saja
Estoy mal
Estoi mal
Saya tidak baik
Estoy triste
Estoi triste
Saya sedih
Estoy feliz
Estoi feliz
Saya senang
Me llamo …
Me yyamo
Nama saya …
¿cómo se llama?
Komo se yyama
Siapa nama anda?

Untuk lebih lanjutnya, bisa belajar di situs berikut gaes :
www.kursusspanyol.com
www.spanishdict.com

EMPAT JENIS PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter dalam satuan pendidikan meliputi pembelajaran di kelas, kegiatan sehari-hari di sekolah (kultur sekolah), dan kegiatan...