Tampilkan postingan dengan label LGBT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LGBT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2016

GEJALA DAN GANGGUAN PSIKOLOGI

Dunia anak-anak merupakan dunia yang sangat kompleks. Banyak anak yang memiliki gangguan psikologis. Sangat penting bagi orangtua untuk mengetahui tentang gangguan psikologis yang dapat mempengaruhi anak-anak dan gejala untuk mengidentifikasi gejalanya, sehingga mereka dapat membantu anak-anak mereka dengan cara yang cepat dan efisien.
ada beberapa gejala dan gangguan psikologi yang terjadi pada anak, diantaranya :

Gangguan Kecemasan

Kecemasan adalah jenis yang paling umum dari gangguan psikologis yang mempengaruhi anak-anak. Gejala utama dari gangguan kecemasan adalah kekhawatiran yang berlebihan, ketakutan atau kegelisahan.

Ada berbagai jenis gangguan kecemasan, seperti ketakutan yang tidak beralasan situasi, paling sering disebut sebagai fobia, gangguan kecemasan umum, yang cenderung membuat anak-anak khawatir berlebihan tentang hal-hal yang tidak realistis, serangan panik, gangguan obsesif kompulsif, yang menyebabkan anak-anak mengulangi pola pikiran dan perilaku, seperti mencuci tangan, dan gangguan stres pasca-trauma, yang biasanya terjadi pada anak-anak yang mengalami peristiwa traumatis dalam hidup. Gangguan stres pasca-trauma menyebabkan kilas balik yang menyakitkan dan menakutkan dari peristiwa traumatik.

Depresi parah

Depresi adalah gangguan psikologis lain yang sangat umum pada anak-anak. Depresi mempengaruhi emosi anak, membuat mereka merasa sedih atau tidak berharga. Mereka mungkin kehilangan motivasi untuk kegiatan yang mereka gunakan untuk sangat menikmati, dan mungkin memiliki perubahan nafsu makan dan pola tidur. Mereka mungkin mulai melihat dunia sebagai tempat yang putus asa, dan mereka tampaknya tidak peduli tentang apa pun. Semua gejala ini penting untuk menyadari karena ketika mereka menggabungkan, seorang anak dapat mempertimbangkan bunuh diri dan hidupnya mungkin dalam bahaya.

Bipolar Disorder

Gangguan bipolar sering terlihat pada gejala perubahan suasana hati berlebihan yang tampaknya berubah dengan cepat dan pergi dari rendah ke tinggi dengan cepat. Saat-saat perubahan suasana hati berlebihan kadang-kadang dimoderatori oleh suasana hati biasa di antara, tapi selama periode suasana hati yang intens, anak-anak mungkin menunjukkan tanda-tanda seperti berbicara non-stop, menunjukkan penilaian buruk dan tidak tampak membutuhkan sangat banyak tidur. Jika tidak diobati tanpa obat, gangguan bipolar dapat menyebabkan depresi berat.

Autisme

Gejala anak autis termasuk anak tidak berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang lain. Gangguan ini biasanya terlihat sebelum anak mencapai usia 3 tahun, dan dapat membuat anak-anak bertindak sangat tidak tepat, seperti membenturkan kepala mereka pada hal-hal.

Skizofrenia

Skizofrenia terlihat pada anak-anak dengan gejala halusinasi, kehilangan kontak dengan realitas dan menarik diri dari orang-orang di sekitar mereka. Gejala lain mungkin termasuk menjadi delusi, mengalami pikiran teratur dan tidak memiliki kemampuan untuk mengalami kenikmatan

Kamis, 17 Maret 2016

penyebab pengasuhan yang membuat anak menjadi LGBT

kata "LGBT" memang sekarang ini menjadi bukan hanya sekedar topik hangat di media massa saja tapi sudah menjadi fenomena yang membahayakan khususnya di negara kita Indonesia..dikutip dari Elly Risman dalam toktokwow.com, ada 7 cara pengasuhan penyebab anak terancam LGBT :

 1. Orangtua yang Tidak Peduli
Ternyata menurut psikolog spesialis anak lulusan psikologi Universitas Indonesia ini, kebanyakan orang tua abai, kurang peduli, bahkan pingsan terhadap anak-anak mereka sejak merdeka sehingga menyebabkan para anak khususnya anak laki-laki menjadi lemah dalam BMM. Yaitu lemah dalam B yaitu berfikir, lemah dalam M yaitu memilih dan lemah dalam M yaitu Mengambil keputusan.

 2. Kurangnya Sosok AYAH
Banyak dari para orang tua yang salah dalam pengasuhan anak laki-laki. Kenapa anak laki-laki? Karena menurut penelitian, otak kiri laki-laki selalu lebih kuat dibanding otak kiri wanita. Namun, sambungan antara otak kanan dan otak kiri pada wanita lebih baik. Sehingga para lelaki sangat mudah fokus pada suatu hal berbeda dengan wanita yang mampu memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Anak laki-laki menjadi banyak yang salah asuh karena kurangnya sosok ayah dalam kehidupannya untuk mengembangkan otak kirinya tersebut. Para ayah biasanya sibuk mencari nafkah sehingga hanya punya waktu untuk keluarga hanya beberapa jam di malam hari dan akhir pekan, itupun kalau tidak ada proyek apapun. Jika dilihat, semakin modern ini para ayah semakin hilang peran dalam pengasuhan anak. Zaman dahulu, para ayah selalu mengusahakan agar punya banyak waktu dengan keluarga, sebut saja ayah dari Ibu Elly Risman ini. Beliau bekerja tak jauh dari rumah sehingga beliau selalu bisa menyempatkan waktu untuk mengajak anak-anaknya solat berjamaah di masjid. Semakin kesini, sosok ayah semakin hilang dan tak lain hanya sebatas pencari nafkah, bahkan sang ibu pun banyak yang lebih memilih menjadi wanita karir. Lebih takut tidak punya uang daripada masuk neraka.  

3. Anak Lelaki Terlalu Banyak Berinteraksi dengan IBU
Karena ayah tidak hadir, maka yang mendidik si anak laki-laki ini sepenuhnya adalah si ibu. Contohnya saja begini ketika si anak laki-laki masih kecil, si anak ini dijadikan bahan curhatan dan dumelan si ibu terhadap suami nya atau ayah dari si anak tersebut. Pada akhirnya si anak laki-laki ini akan membanding bandingkan sosok ayah nya dengan ayah ayah yg lain. Belum lagi ketika si anak laki-laki beranjak dewasa. Dikarenakan selalu kemana-mana sama ibu dan kurang ajakan dari si ayah. Misalnya saja ketika menemani si ibu nyalon. Karena si anak laki-laki ini cuma menunggu sambil mondar-mandir tidak jelas, berkatalah si ibu "eh, kamu. daripada mondar-mandir gajelas, sekalian aja krimbath sana atau apa kek biar bersih dikit". Nah, ini dia salah satu penyebab awal LGBT yang tertanam secara tidak langsung. Jadi siapa yang memulai? siapa yang mengajarkan?

 4. Anak Perempuan Kurang Kasih Sayang AYAH
Selanjutnya si anak perempuan. Banyak sekali anak perempuan yang kekuragan pengasuhan sang ayah. Sang ayah pergi di subuh hari menitipkan uang jajan kepada si anak, pergi bekerja kemudian kembali malam hari. Banyak ayah yang mengira tugasnya hanyalah sebatas memberi nafkah untuk belajar si anak kemudian lepas tangan terhadap yang lain. Kurangnya kasih sayang lawan jenis khususnya sang ayah kepada si anak perempuan ini meskipun hanya dari sekedar pelukan tidak sedikit yang menjadikannya pada akhirnya lebih nyaman mendapat kasih sayang dari sesama jenis. Bagaimana sebenarnya akibat dari peran ayah yang lepas terhadap anaknya? Menurut beberapa penelitian atas kurangnya peran sang ayah terhadap anaknya. Hilangnya peran ayah dapat menyebabak anak laki-laki menjadi nakal, agresif, narkoba, dan pada ujungnya seks bebas. Sementara pada anak perempuan akan berdampak depresi, dan selanjutnya seks bebas. Ingat, peran orangtua sangat vital dalam awal terbentuknya LGBT.

5. Kurang Pemahaman AGAMA
Selanjutnya adalah kurangnya pemahaman agama, atau agama cuma sekedar lewat. Sejak sang ibu melahirkan, maka sang ibu itu sudah disahkan menjadi babbysitter Allah. Sudah merupakan tanggungjawabnya dan tanggungjawab si ayah lah pengasuhan si anak itu. Bukan justru menggunakan jasa babbysitter lain atau malah si nenek dan kakek yang mengasuh.

6. Terlalu Bebas Menggunakan GADGET
Kemudian yang paling umum sekarang adalah para orang tua banyak yang belum begitu paham dengan gadget seperti smartpone, tablet, dan komputer. Anak laki-laki menjadi sasaran utama dari pornografi dan narkoba. mengapa? karena laki-laki memiliki otak kanan dominan yang lebih mudah fokus, memiliki hormon testosteron atau hormon seks yang lebih, serta penampilan fisik kemaluan yang di luar sehingga lebih mudah di stimulasi menjadikan anak laki-laki sangat mudah terserang pornografi dan narkoba. Dan para orang tua hilang kendali atas semua ini. Anak laki-laki zaman sekarang ini sudah akil baligh di umur 11-13. Kenapa bisa begitu? Gizinya bagus, namun rangsangan seks nya juga bagus. Dapat dari mana? dari seluruh gadget yang di berikan para orangtua dengan cuma-cuma tanpa pengawasan, dengan mudahnya memberikan gadget bahkan dengan kuota internetnya yang melimpah tanpa pengawasan sedikitpun. Menurut PBB sendiri berdasarkan survey yang dilakukannya, kota terbesar pengidap HIV/aids di usia 11-19 tahun adalah Bangkok, Jakarta, kemudian disusul oleh Hanoi. Prestasi yang sangat buruk bagi ibukota negara kita. Bahkan di Tarakan, jumlah pengidap aids pada usia anak lebih banyak dibanding pengidap aids dari para pelacur. Sungguh miris.

7. Anak Terpapar PORNOGRAFI
Semuanya berawal dari gadget, dari segala apps yang ada di dalamnya. Segala info dan hal negatif dengan mudah didapatkan anak dari gadget yang diberikan oleh orangtuanya sejak dini. Bahkan mengalahkan segala asuhan orangtuanya. Pada akhirnya orangtua hanya dijadikan sesosok penegak hukum yang dimana didepannya para anak menjadi sosok pribadi yang lain dibanding sosok pribadi aslinya di pergaulannya. Pornografi masuk melalu mata, kemudian diolah dengan hati. Maka BMM tadi pada anak sangat penting bagi anak. Pada akhirnya merangsang dopamin, menyebabkan ketagihan, sehingga berusaha meniru bahkan mencoba. Maka orang tua yang santai saja, merasa aman-aman saja dengan gadget dan segala hal yang diberikan kepada anaknya ini lah yang berbahaya. Dan yang namanya pornografi itu pasti sepaket dengan LGBT. Berawal dari pornografi antar lawan jenis dan berujung pada rasa penasaran terhadap pornografi sesama jenis dan membawa kepada LGBT. Pada akhirnya yang pertama adalah pulangkan lah sang ayah. Sosok ayah sangat penting, jangan sampai sang ayah hanya memberikan uang kotor yang pada akhirnya digunakan anak untuk mencederai otaknya sendiri. Begitu juga dengan sosok ibu yang merupakan pendidik dan pengajar yang paling utama bagi para anak.

EMPAT JENIS PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter dalam satuan pendidikan meliputi pembelajaran di kelas, kegiatan sehari-hari di sekolah (kultur sekolah), dan kegiatan...